BI Kaltim Laporkan Industri Pengolahan dan Proyek IKN Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 2026

Seputar Nusantara – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Timur memproyeksikan perekonomian Kaltim akan tetap berada di jalur positif pada 2026.
Optimisme ini ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan dan konstruksi yang diperkirakan terus menguat.
Deputi Kepala BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menyebut sektor konstruksi masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan, seiring berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), terutama pada pengembangan kawasan legislatif dan yudikatif.
“Pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif di IKN pada 2026 diprakirakan membutuhkan anggaran sekitar 6 persen lebih tinggi secara tahunan dibandingkan 2025,” ujar Bayuadi.
Selain konstruksi, sektor industri pengolahan juga diprediksi menunjukkan kinerja positif. Peningkatan ini didorong oleh penambahan kapasitas kilang atau refinery yang diharapkan mampu mendorong nilai tambah ekonomi daerah.
Dari sisi pertanian, BI Kaltim mencatat adanya peningkatan target Optimalisasi Lahan (Oplah) dan program Corporate Social Responsibility (CSR) pada 2026.
Bayuadi menjelaskan, sejumlah program oplah sempat tertunda pada 2025 akibat keterbatasan anggaran, sehingga pada 2026 targetnya dinaikkan hingga mencapai 3.000 hektare.
Namun demikian, perekonomian Kaltim juga dihadapkan pada sejumlah tantangan. Dari sektor pertambangan, permintaan batu bara dari Tiongkok diprakirakan menurun sekitar 1,49 persen secara tahunan, seiring melemahnya permintaan dari negara mitra dagang lain akibat percepatan transisi energi menuju sumber energi terbarukan.
Tantangan juga datang dari sektor pertanian. Prakiraan fenomena La Nina atau kondisi cuaca basah pada 2026, ditambah dengan meningkatnya luas replanting Tandan Buah Segar (TBS) di akhir 2025, berpotensi menekan produksi TBS.
Sementara itu, terkait inflasi, Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Kalimantan Timur pada 2026 tetap terkendali dalam kisaran sasaran sebesar 2,5 persen. Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau diperkirakan menjadi penyumbang inflasi terbesar.
“Meski menghadapi sejumlah tantangan, khususnya pada komoditas bahan makanan yang bersifat volatile food, tekanan inflasi Kaltim pada 2026 diprakirakan tetap berada dalam kisaran sasaran,” jelas Bayuadi.
Secara nasional, BI mencatat komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga emas global serta lonjakan permintaan di pasar.
“Selain faktor bahan makanan, tantangan pengendalian inflasi Kaltim juga berasal dari masih tingginya ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada volatilitas harga emas perhiasan serta bahan bakar,” tegasnya. (*)