Ekonomi

Dorongan Migas dan IKN Angkat Optimisme, BI Ramal Ekonomi Kaltim Tembus 5,3 Persen pada 2026

Seputar Nusantara – Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur memproyeksikan perekonomian Bumi Mulawarman tetap bertumbuh solid pada 2026.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), ditopang sektor migas dan percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, mengungkapkan optimisme tersebut sejalan dengan capaian ekonomi daerah pada akhir 2025.

“Kami menargetkan ekonomi Kaltim secara keseluruhan pada 2026 dapat tumbuh di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen yoy,” ujar Jajang.

Triwulan IV-2025 Tumbuh 5,8 Persen

Ia memaparkan, pada triwulan IV-2025 pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat mencapai 5,8 persen (yoy), meningkat signifikan dibandingkan triwulan III-2025 yang sebesar 4,26 persen.

Capaian ini semakin menegaskan posisi Kaltim sebagai kontributor utama ekonomi regional Kalimantan dengan pangsa 46,02 persen.

Angka tersebut jauh melampaui Kalimantan Barat sebesar 17 persen dan Kalimantan Selatan 15,77 persen.

Menurut Jajang, penguatan ekonomi Kaltim tak lepas dari dinamika global yang memengaruhi komoditas andalan seperti batu bara dan sektor perdagangan.

Meski demikian, pembangunan IKN menjadi katalis utama pertumbuhan, khususnya di sektor konstruksi dan investasi.

Migas dan Hilirisasi Jadi Penopang

Dari sisi industri pengolahan, stabilitas tetap terjaga berkat dukungan sektor minyak dan gas serta ekspansi industri swasta.

Peningkatan kapasitas kilang migas direncanakan mampu menambah produksi hingga 50 ribu barel per hari pada triwulan III-2026.

Selain itu, eksplorasi sumur gas yang dimulai sejak akhir 2025 diproyeksikan mendorong produksi industri turunan migas secara signifikan sepanjang 2026.

Secara nasional, Bank Indonesia mencatat ekonomi Indonesia tetap bertahan di tengah tekanan pasar keuangan global dan ketegangan geopolitik.

Pada 2025, wilayah Kalimantan menyumbang 8,12 persen terhadap total perekonomian nasional.

Memasuki 2026, BI akan memperkuat bauran kebijakan melalui instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna mempercepat digitalisasi ekonomi.

“Bank Indonesia terus bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen,” jelasnya.

Inflasi Jadi Perhatian

Di tengah proyeksi pertumbuhan positif, tekanan inflasi tetap menjadi perhatian. Jajang menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi di Kaltim tahun ini.

Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut menjadi penyumbang inflasi bulanan pada Januari 2026.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih memberikan andil terhadap kenaikan inflasi tahun ini. Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi pada Januari,” tegasnya.

Dengan kombinasi dorongan sektor migas, percepatan pembangunan IKN, serta penguatan kebijakan ekonomi, Kaltim diyakini tetap menjadi motor pertumbuhan utama di regional Kalimantan sepanjang 2026. (*)

Back to top button