
Seputar Nusantara – Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim, sekitar 72 persen kebutuhan daging sapi Kaltim, masih memerlukan paskoan dari luar daerah.
Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Kaltim, masih memerlukan pasokan pangan yang berasal dari Jawa Timur, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT)
Tingginya ketergantungan dari daerah lain guna memenuhi kebutuhan daging, disoroti oleh Hasanuddin Masud, Ketua DPRD Kaltim.
Menurutnya, tingginya ketergantungan pasokan daging sapi dari luar daerah ini jadi sinyal potensi ancaman bagi ketahanan pangan.
“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ketahanan pangan kita bisa terganggu jika selalu berharap pasokan dari luar. Harus ada terobosan agar peternakan sapi di Kaltim bisa mandiri,” kata Hasan Masud, sapaan akrabnya.
Sebagai langkah konkret, ia mengusulkan pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan alternatif bagi ternak sapi.
“Limbah sawit dapat menjadi solusi pakan yang murah dan berkualitas apabila dikelola secara tepat. Pemanfaatan ini bukan hanya efisien secara biaya, tetapi juga membuka peluang penguatan ekonomi peternakan dan perkebunan secara bersamaan,” jelasnya.
“Perlunya membangun sinergi antara sektor peternakan dan perkebunan akan menciptakan ekosistem usaha lokal yang saling mendukung. Ini jadi model simbiosis ini dapat menjamin pasokan daging lokal yang berkelanjutan,” tegasnya. (*)