
Seputar Nusantara – Seno Aji, Wakil Gubernur Kaltim, melaporkan kondisi ketahanan pangan Kaltim dan strategi pemerintah daerah menuju kemandirian pangan.
Mengejar target swasembada pangan memiliki tantangan yang cukup besar, mulai dari keterbatasan lahan subur, produktivitas pertanian yang belum optimal, hingga ketergantungan pasokan beras dari luar daerah.
Namun, melalui rekayasa lahan seperti penambahan kapur dan dolomit serta penerapan metode LEISA, produktivitas padi meningkat dari 3 hingga 4 ton menjadi 6 hingga 7 ton per hektare dalam sekali panen.
“Dulu hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan beras, kini sudah mencapai 60 persen,” kata Seno Aji.
Pemprov Kaltim juga menargetkan perluasan lahan pertanian dari sekitar 33 ribu hektare menjadi 46 hingga 50 ribu hektare melalui cetak sawah baru dan optimalisasi lahan.
Produksi beras November 2025 tercatat mencapai 160 ribu ton. “Kita hanya perlu menambah sedikit lagi untuk mencapai 100 persen kebutuhan beras Kaltim, bahkan surplus,” jelasnya.
Selain faktor iklim dan lahan, regenerasi petani menjadi perhatian serius. Pemprov Kaltim mendorong keterlibatan generasi muda melalui brigade pangan, pemuda tani Indonesia dan petani milenial, disertai insentif serta dukungan alat pertanian modern.
“Ketahanan pangan bukan sekadar angka, tetapi kerja bersama pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan agar Kaltim berdaulat pangan,” tegasnya. (*)