Kejar Adipura 2027, Kukar Siapkan Reformasi Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi

Seputar Nusantara – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memasang target ambisius untuk meraih kembali penghargaan Adipura pada 2027.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat sistem pengolahan sampah melalui adopsi teknologi modern dan peningkatan dukungan anggaran.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menyampaikan komitmen tersebut saat melakukan studi tiru ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuroto, Kulon Progo, Yogyakarta.
Kunjungan itu difokuskan untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi.
“Studi tiru ini untuk mendalami sistem pengolahan sampah berbasis teknologi,” ujar Rendi Solihin.
Saat ini, Kukar menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Dari total produksi sekitar 370 ton sampah per hari, kapasitas pengolahan yang tersedia baru mampu menangani 250 ton.
Artinya, masih terdapat selisih lebih dari seratus ton sampah yang belum tertangani secara optimal.
Untuk mengatasi defisit tersebut, Pemkab Kukar berencana mengadopsi mesin pencacah serta teknologi insinerator ramah lingkungan dengan sistem pembakaran empat tahap.
Teknologi ini dinilai mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
“Teknologi ini diproyeksikan mampu memproses 103 ton sampah per hari secara bersih untuk melindungi ekosistem lingkungan, termasuk Sungai Mahakam,” jelasnya.
Rendi menegaskan, pembenahan sistem pengelolaan sampah menjadi faktor kunci dalam upaya merebut kembali supremasi Adipura.
Selain inovasi teknologi, dukungan anggaran juga menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Diketahui, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp50 miliar pada 2026.
Namun menurut Rendi, kebutuhan ideal untuk pengelolaan sampah yang maksimal mencapai sekitar 3 persen dari total APBD, guna memastikan infrastruktur berjalan optimal di 20 kecamatan.
Pemkab Kukar juga menetapkan Kecamatan Tenggarong sebagai prioritas penanganan, mengingat wilayah tersebut menyumbang sekitar 30 persen dari total produksi sampah kabupaten.
Sementara itu, Muara Jawa terus didorong sebagai wilayah percontohan (pilot project) pengelolaan sampah terbaik di Kalimantan Timur.
“Kita berharap bisa segera mengimplementasikan skema manajemen sampah yang efisien demi lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tegas Rendi. (*)