Sebaran Mikroplastik Meluas, DPRD Samarinda Minta BPPOM Perketat Pengawasan

Seputar Nusantara – Mikroplastik menjadi lebih tersebar luas. Yang terbaru bahkan dapat dideteksi di udara dan produk yang digunakan orang setiap hari. Kesimpulan ini diambil dari sebuah studi oleh American Chemical Society’s Human Consumption of Microplastics (ACS). Menurut penelitian, air minum dalam kemasan merupakan bahan konsumsi sehari-hari yang paling banyak mengandung mikroplastik, diperkirakan mengandung rata-rata 94,37 partikel mikroplastik per gram/liter/meter kubik.
Menanggapi temuan tersebut, Deni Hakim Anwar, Sekretaris Komisi IV DPRD Samarinda, menyatakan pihaknya akan segera mengkonfirmasi secara tertulis kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) dugaan adanya bahan mikroplastik dalam air minum dalam kemasan (AMDK). ) dan galon air. Bagaimanapun, tidak ada kantong mikroplastik yang ditemukan di air minum kemasan atau galon yang diisi ulang berdasarkan laporan terbaru dari tahun 2020.
“Sampai saat ini belum ada temuan zak mikroplastik. Tapi kami tetap mendorong ada penelitian uji klinis lagi dari BPPOM Samarinda untuk memastikan tidak ada AMDK dan galon yang tercemar,” kata Deni Hakim Anwar.
Deni mengatakan, tujuan kunjungan selanjutnya ke BPPOM Samarinda untuk memastikan apakah semua botol air minum dan galon di Samarinda telah berhasil menjalani uji klinis zat mikroplastik. Dia mengindikasikan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti dengan instansi terkait jika ada temuan. Pabrik-pabrik ini harus diawasi secara ketat untuk menjamin bahwa mereka bersih dan bebas dari bahan berbahaya seperti mikroplastik. Kesehatan manusia sangat terancam oleh senyawa mikroplastik. Bahan kimia ini dapat merusak sistem kekebalan tubuh, menyebabkan perkembangan tumor, dan mengganggu proses pembuatannya.