Tinjau IKN, Menag RI Tekankan Peran Masjid Negara IKN Jadi Simbol Persatuan di Bulan Ramadan

Seputar Nusantara – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, melakukan kunjungan kerja ke Ibu Kota Nusantara dalam rangka memperkuat persatuan dan harmoni antarumat beragama, khususnya di momentum Ramadan.
Dalam kunjungannya, Nasaruddin menegaskan bahwa Ramadan di Nusantara bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga ruang mempererat kebersamaan di tengah proses pembangunan ibu kota baru Indonesia.
“Masjid Negara IKN memiliki peran strategis, bukan sekadar sebagai tempat ibadah, melainkan pusat pemberdayaan dan pembinaan umat,” ujar Nasaruddin.
Ia menambahkan, keberadaan Masjid Negara IKN diharapkan menjadi simbol persatuan dan toleransi di kawasan yang tengah tumbuh sebagai pusat pemerintahan nasional.
“Masjid ini harus menjadi tempat untuk memberdayakan umat. Masjid ini akan menjadi mercusuar toleransi, simbol pemersatu umat, rumah besar untuk kemanusiaan,” sambungnya.
Menurutnya, pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga menanamkan nilai toleransi, pelayanan publik, serta membangun ekosistem sosial yang inklusif dan harmonis.
Ramadan tahun ini pun dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai tersebut.
Selama berada di IKN, Menteri Agama turut meninjau sejumlah fasilitas dan proyek pembangunan, di antaranya progres pembangunan Gereja Santo Fransiskus Xaverius, RS Hermina, Rumah Susun ASN 1, serta Kantor Bersama.
Peninjauan tersebut mencerminkan sinergi lintas sektor dalam membangun kawasan pemerintahan modern yang tetap berlandaskan kebersamaan.
Kehadiran Menag di IKN juga menjadi bagian dari syiar Ramadan yang menghadirkan suasana religius dan inklusif di tengah aktivitas pembangunan yang terus berjalan.
Di kawasan Nusantara, aparatur sipil negara, pekerja konstruksi, dan masyarakat sekitar disebut terus membangun semangat kebersamaan.
Otorita IKN menilai Ramadan kali ini menjadi momentum strategis untuk menegaskan bahwa Nusantara dibangun bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai simbol Indonesia yang rukun, inklusif, dan menjunjung tinggi persatuan. (*)