
Seputar Nusantara – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Paser melaporkan kondisi perekonomian daerah tersebut tetap menunjukkan tren positif pada 2026.
Pertumbuhan ekonomi Paser tercatat berada di angka 3,61 persen meskipun sebelumnya sempat menghadapi tekanan akibat resesi dan kebijakan efisiensi pada 2025.
Kepala BPS Paser, Bayu Agung Prasetyo, mengatakan stabilitas ekonomi daerah masih terjaga dan bahkan memiliki peluang untuk meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan ekonomi Paser saat ini berada di angka 3,61 persen,” ujar Bayu Agung Prasetyo saat memaparkan perkembangan ekonomi daerah.
Ia menjelaskan kondisi ekonomi pada 2026 tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun secara umum, situasinya dinilai lebih stabil.
“Mengingat ekonomi relatif lebih stabil di tahun 2024 dibandingkan 2025, maka bisa disimpulkan bahwa di tahun 2026 ini kita akan baik-baik saja, bahkan bisa lebih baik,” jelasnya.
BPS juga mencatat adanya perubahan struktur ekonomi di Kabupaten Paser. Ketergantungan terhadap sektor ekstraktif, khususnya pertambangan, mulai berkurang secara bertahap dari tahun ke tahun.
Sebelumnya kontribusi sektor tambang berada di kisaran 61,00 persen, namun kini menurun menjadi sekitar 54,89 persen.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta industri pengolahan justru mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
Menurut Bayu, perubahan pola ekonomi masyarakat turut mendorong pertumbuhan sektor lain, termasuk sektor konsumsi rumah tangga yang semakin berkembang.
“Belanja online membawa angin segar bagi pelaku bisnis Rumah Tangga Konsumen atau RTK, yang fokus pada kegiatan konsumsi barang dan jasa bagi kebutuhan hidup, yang ditopang faktor produksi yang meliputi tenaga kerja, tempat dan modal,” terangnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat juga mengalami peningkatan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Paser tercatat naik dari 75,13 pada 2024 menjadi 75,85 pada 2025.
Di sisi lain, Rasio Gini juga sedikit meningkat dari 0,271 menjadi 0,273. Meski demikian, kondisi sosial ekonomi masyarakat dinilai masih cukup terkendali.
Penurunan tingkat kemiskinan serta stabilnya angka pengangguran terbuka menjadi salah satu faktor pendukung capaian tersebut.
“Angka kemiskinan menurun dari 8,63 persen menjadi 8,13 persen. Sedangkan pengangguran terbuka sebesar 4,62 persen, masih di bawah rata-rata Kalimantan Timur yang berada di angka 5,18 persen,” pungkasnya. (*)