
Seputar Nusantara – Aktivitas penerbangan di Bandara APT Pranoto Samarinda mulai meningkat menjelang perayaan Idulfitri 2026.
Pengelola bandara mencatat puluhan ribu penumpang telah menggunakan layanan penerbangan selama periode menjelang Lebaran.
Kepala Bandara APT Pranoto, I Kadek Yuli Sastrawan, mengungkapkan hingga saat ini total pergerakan penumpang yang dilayani bandara tersebut mencapai 35.618 orang.
“Rute penerbangan tujuan Jakarta sejauh ini masih menempati urutan pertama yang paling banyak diminati penumpang, disusul oleh Kota Surabaya,” ujar Kadek.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.286 penumpang tercatat tiba di Samarinda melalui terminal kedatangan. Sementara itu, 19.332 penumpang lainnya berangkat meninggalkan Kota Samarinda melalui terminal keberangkatan.
Untuk mendukung mobilitas masyarakat selama musim mudik, sejumlah maskapai komersial reguler turut melayani penerbangan dari bandara ini. Beberapa di antaranya adalah Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, dan Super Air Jet.
Selain penerbangan reguler, pihak bandara juga menyiagakan maskapai Smart Aviation untuk melayani penerbangan perintis yang menghubungkan wilayah pedalaman, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar di Kalimantan.
Mengantisipasi lonjakan penumpang saat puncak arus mudik, pengelola bandara turut menyiapkan penerbangan tambahan pada rute Samarinda–Yogyakarta yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Maret 2026.
“Kami telah menyediakan extra flight bersama maskapai Super Air Jet agar lonjakan kebutuhan transportasi masyarakat pada periode libur ini dapat difasilitasi dengan maksimal,” jelas Kadek.
Ia menambahkan, tiket untuk penerbangan tambahan menuju Yogyakarta tersebut sudah dapat dipesan masyarakat melalui berbagai agen perjalanan.
Selain menambah kapasitas penerbangan, pengelola bandara juga meningkatkan pengawasan operasional menjelang puncak arus mudik Lebaran.
Tim gabungan disiagakan untuk memastikan seluruh aktivitas penerbangan berjalan aman dan sesuai prosedur.
“Tim gabungan bertugas memeriksa kelengkapan dokumen personel hingga kelaikan operasional alat berat guna memitigasi risiko keamanan selama peningkatan frekuensi penerbangan,” tegasnya. (*)