Jelang Ramadan, Samarinda Siapkan Sidak dan Perketat Pengawasan Harga Pangan

Seputar Nusantara – Pemerintah Kota Samarinda meningkatkan pengawasan harga bahan pangan menjelang bulan suci Ramadan guna mencegah gejolak harga dan menjaga daya beli masyarakat.
Langkah ini dilakukan melalui pemantauan pasar, penguatan distribusi, serta koordinasi lintas sektor.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menegaskan bahwa stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi fokus utama pemerintah daerah.
Menurutnya, lonjakan permintaan menjelang Ramadan harus diantisipasi sejak dini agar tidak berdampak pada inflasi daerah.
“Yang menjadi prioritas utama adalah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok harian masyarakat. Distribusi harus lancar dan pasokan harus terjaga,” ujar Saefuddin Zuhri saat ditemui usai rapat koordinasi pengendalian inflasi.
Pemkot Samarinda juga mencermati pergerakan harga sejumlah komoditas strategis, khususnya bawang merah, bawang putih, dan daging sapi.
Pemerintah meminta seluruh pihak terkait memastikan distribusi berjalan normal agar tidak terjadi kelangkaan pasokan.
“Koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menekan potensi kenaikan harga, terutama untuk komoditas yang sensitif terhadap permintaan,” jelas Saefuddin.
Data Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda menunjukkan sebagian besar harga bahan pangan masih berada dalam kondisi relatif stabil.
Harga cabai rawit merah tercatat sekitar Rp39.000 per kilogram, sedangkan daging ayam ras berada di kisaran Rp34.800 per kilogram. Namun demikian, harga daging sapi dan telur ayam ras masih tercatat di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).
Di sisi lain, ketersediaan energi dan pangan dinilai cukup aman. Pertamina memastikan distribusi elpiji di Samarinda berjalan normal, sementara Bulog menjamin stok beras mencukupi kebutuhan lima hingga enam bulan ke depan.
Selain itu, Bulog juga menyiapkan tambahan pasokan minyak goreng Minyakita untuk menjaga keseimbangan pasar.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Samarinda merencanakan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar pada pertengahan Februari 2026.
Pemerintah juga membuka peluang intervensi pasar jika terjadi lonjakan harga yang signifikan.
“Selama pasar masih stabil, operasi pasar murah belum diperlukan. Tapi pemerintah tetap siaga dan siap bertindak cepat jika terjadi kenaikan harga,” tegas Saefuddin Zuhri.
Pemkot Samarinda berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan distributor dapat menjaga stabilitas harga selama Ramadan, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (*)