EkonomiKaltimSamarinda

Pemprov Kaltim Lirik Potensi Hilirisasi Kelapa Dalam Guna Genjot Perekonomian Daerah

Seputar Nusantara – Imbas pemotongan dana transfer ke daerah (TKD) oleh pemerintah pusat, APBD Kaltim tahun 2026 diprediksi akan turun sekitar Rp7 triliun, dari Rp21 triliun menjadi tersisa Rp14 triliun.

Pemotongan TKD ini diperkirakan turut berdampak pada perekonomian daerah.

Untuk itu, Rudy Masud, Gubernur Kaltim, mengusulkan seluruh OPD terus meningkatkan inovasi. Salah satunya dengan mendorong masuknya investasi untuk pengembangan hilirisasi kelapa dalam.

Diketahui, Kelapa dalam adalah varietas kelapa yang memiliki pohon tinggi, bisa mencapai 30 meter, dan memiliki ciri khas batang yang membesar di pangkalnya (disebut bole).

Rudy Masud mengatakan kelapa dalam memiliki potensi besar dan bisa menjadi salah satu sumber penggerak perekonomian daerah di masa depan, sekaligus sumber pendapatan asli daerah (PAD) berkelanjutan.

Pengembangan hilirisasi kelapa dalam ini di sisi lain juga akan melepaskan Kalimantan Timur dari ketergantungan terhadap eksploitasi sumber daya alam tak terbarukan, dengan mengoptimalkan potensi sumber-sumber ekonomi hijau dan terbarukan.

“Penting bagi kita untuk membuka seluas-luasnya investasi pengembangan hilirisasi. Contoh kelapa dalam,” kata Rudy Masud.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa dalam terbesar di dunia, karena kelapa hanya bisa tumbuh di negara beriklim tropis. Potensi besar itu juga tersedia di Kaltim.

“Kelapa dalam ini, potensi hilirisasinya sangat luar biasa. Satu pohon kelapa dalam saja bisa menghasilkan 50-80 butir per tahun. Potensinya Rp35 juta dari hanya penjualan kopra per hektare per tahun,” jelasnya.

Sedangkan potensi industri hilirisasi kelapa dalam secara nasional bisa mencapai Rp2.400 triliun.

Dari kelapa dalam bisa dihasilkan kopra. Produk turunannya antara lain minyak kelapa, santan kemasan, serta virgin coconut oil (VCO).

Sementara dari sabut kelapa bisa diolah lagi menjadi coco fiber (serat kelapa) dan coco peat (kelapa gambut).

“Produk turunan kelapa dalam sangat diminati pasar global untuk industri makanan sehat, kosmetik dan bahan alami,” tambah Gubernur.

Di pasaran, harga kelapa dalam berkisar Rp13 ribu per butir. Namun setelah diolah menjadi produk bernilai tambah harganya menjadi sangat mahal.

Kelapa dari Indonesia biasanya dikirim ke Thailand dan Vietnam. Di negara- negara itu kemudian kelapa diolah hingga menjadi produk-produk bermerek setempat.

“Kaltim seharusnya mengambil peluang besar dari kelapa dalam ini. Apalagi, Kaltim memiliki potensi lahan yang masih sangat luas dan bisa dikembangkan untuk penanaman kelapa dalam ini,” tegasnya.

“Demi memudahkan perizinan dan promosi, kita meminta seluruh instansi terkait di jajarannya untuk mempermudah segala urusan agar investasi mudah masuk ke Kaltim,” pungkasnya. (*)

Back to top button