
Seputar Nusantara – Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, melaporkan angka prevalensi stunting di Samarinda, saat ini tercatat 20,2 persen.
Selanjutnya, Dinkes Samarinda menargetkan penurunan angka prevalensi stunting Kota Tepian menjadi 18,3 persen pada tahun 2029, lebih rendah dari target nasional 19 persen.
“Kami meningkatkan upaya pencegahan stunting melalui deteksi dini gangguan pertumbuhan dan gizi anak,” kata Rudy Agus Arianto, Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Samarinda.
“Yang kita cegah itu justru sebelum stunting. Mulai dari bayi dengan berat lahir rendah, berat badan yang turun, hingga gizi kurang sudah harus kita tangani,” lanjutnya.
Selain itu, peran Posyandu sebagai ujung tombak pemantauan pertumbuhan anak. Dengan lokasi yang dekat dan layanan gratis, Posyandu dinilai mampu memberikan pemantauan kualitas setara fasilitas kesehatan lainnya.
“Posyandu itu ada di sekitar tempat tinggal. Tidak perlu kartu BPJS, tidak perlu bayar, dan kualitas pemantauan pertumbuhannya setara dengan dokter atau klinik. Jadi masyarakat jangan ragu untuk datang,” papanya.
Rudy menegaskan tantangan terbesar masih berada di wilayah seberang dan bantaran sungai yang memiliki masalah kesehatan lingkungan.
“Kesehatan lingkungan itu punya hubungan langsung dengan stunting. Jadi perbaikan sanitasi dan lingkungan bersih juga harus berjalan bersama,” tegasnya. (*)