
SEPUTAR NUSANTARA, SAMARINDA – Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi, menanggapi terkait mahalnya beberapa harga bahan pokok dan bahan penting (Bapokting) terutama telur. Ditemui usai menghadiri agenda peresmian pasar Ramadan di Masjid Jami’ Jabal Nur Samarinda.
“Kita tanggal 5 kemarin sudah melakukan peninjauan pertama, untuk dari sisi jumlah stok aman, yang kita waspadai justru kemarin daging, terutama sapi kemudian daging olahan,” tuturnya pada Selasa, (12/3/2024).
“Kalau untuk ayam dan telur rasanya jumlahnya cukup. Nanti kita cek kembali, ini situasional saja, karena hari pertama pasti semua ingin menghidangkan dengan menu yang terbaik,” sambungnya.
Rusmadi memastikan bahwa selain daging, Bapokting lainnya terpantau aman.
“Saya pastikan kecuali daging daging segar terutama dan daging utuh sisanya aman di pasaran,” tandasnya.
Ia turut berpesan, agar masyarakat tidak melakukan panic buying dan terus memantau informasi resmi dari pemerintah.
“Masyarakat jangan panik, jangan belanja yang berlebihan. Jika ada informasi jangan langsung diterima, jadi dapatkan informasi yang benar dari pemerintah. Apabila terjadi lonjakan-lonjakan pemerintah pasti pada kesempatan pertama dalam memberikan informasi,” tandasnya.
Lebih lanjut, terpantau beberapa harga bahan pokok mengalami kenaikan di pasar Samarinda. Salah satunya saat meninjau di Pasar Kedondong Samarinda.
Harga telur ayam ras di Pasar Kedondong Samarinda mengalami kenaikan. Pedagang telur Winda, mengatakan harga telur kini mencapai Rp68 ribu per piring isi 30 butir.
“Satu piring sekarang harga paling tinggi Rp68 ribu. Yang lebih murah Rp62 ribu per piring dengan ukuran telur yang agak kecil,” ucap Winda.
Kenaikan harga telur ini sudah terjadi beberapa hari sebelum memasuki bulan Ramadan. Meski demikian, masyarakat tetap membeli telur tersebut untuk kebutuhan selama bulan puasa.
“Kenaikan harga telur ini juga mempengaruhi keuntungan penjualan kami. Kalau telur naik turun, dan pasti berpengaruh terhadap penjualan. Biasanya kita untung Rp1000-Rp2000, sekarang hanya Rp500 rupiah saja,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa telur ayam ras yang ia jual dipasok dari luar pulau, yaitu Surabaya, Jawa Timur. Alasannya, harga telur di Surabaya jauh lebih murah dibandingkan produksi lokal di Samarinda.
“Kalau dari Surabaya itu Rp55-Rp58 ribu per piringnya. Tapi kalau lokal sudah Rp58-Rp60 ribuan,” ungkapnya.
Ia biasanya mendatangkan sekitar 180-200 ikat telur, untuk stok selama bulan Ramadan atau hari biasa. Hal ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan telur bagi para pelanggannya.
“Seminggu sekali biasanya datang. Mudah-mudahan harga telur bisa kembali stabil, dan banyak pembelinya di Bulan Ramadan ini,” harapnya.