Andi Harun Jadi Narasumber Seminar UT Samarinda, Ini yang Disampaikan

SEPUTAR NUSANTARA, SAMARINDA – Wali Kota Samarinda Andi Harun menjadi narasumber dalam Seminar Universitas Terbuka (UT) Samarinda di Convention Hall Sempaja Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) pada Sabtu, (2/3/2024).
Dipandu Kepala Bagian Kerjasama Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setda Provinsi Kaltim Agung Masuprianggono, dan didampingi Direktur UT Samarinda Rusna Ristasa, Andi Harun memaparkan beberapa hal penting.
Membuka diskusinya, Andi Harun menyampaikan kepada partisipan yang didominasi Mahasiswa UT Samarinda itu, terkait dua negara yang kemajuannya sangat berpengaruh bagi dunia.
“Singapura, setelah merdeka dan lepas dari Malaysia, sudah dianugerahkan pemimpin berkualitas seperti Lee Kuan Yew yang memiliki kapasitas kepemimpinan yang menjadi faktor kunci kemajuan Singapura,” ungkapnya.
Lee Kuan Yew merupakan seorang politisi dan pengacara yang juga menjadi perdana menteri pertama Singapura. Pria yang lahir pada 16 September 1923 itu, menjabat dari tahun 1959 hingga 1990.
Selain negara Singapura, Andi Harun juga meyebutkan bahwa negara dengan kemajuan luar biasa adalah Tiongkok. Berhasil menjadi “peniru” yang handal, Tingkok mampu mempengaruhi dunia melalui ekonominya.
“Tiongkok itu negara “peniru”. Tiru, tiru, tiru, tiba-tiba jadi. Coba lihat, banyak barang kw (tiruan) yang kalian punya rata-rata dari situ, misal jam Rolex, mereka membongkar isinya, mereka tiru, lalu buat yang kurang lebih serupa dan dijual dengan harga miring,” jelasnya.
“Akhirnya banyak barang-barang tiruan yang dihasilkan dari sana (Tiongkok) diminati banyak orang, termasuk Indonesia dan kalian yang membeli,” sambungnya.
Melalui kedua negara maju ini, ia mengharapkan agar para partisipan dapat mengambil makna hebatnya sumber daya manusia (SDM) yang diciptakan para pemimpin negara tersebut yang bahkan mampu mempengaruhi negara lain.
Terkait SDM, Andi Harun menjelaskan, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Kaltim, Kaltim merupakan provinsi dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi se-Kalimantan pada tahun 2023, yakni sebesar 78,20 persen.
Samarinda menjadi kota dengan IPM tertinggi se-Kaltim di 2023 dengan angka 82,32 persen. Di mana angka ini terus mengalami kenaikan sejak 2021 dengan skor 80,76 persen, dan di 2022 dengan skor 81,43 persen.
Sebagai informasi, IPM adalah ukuran perbandingan dari harapan hidup melek huruf, pendidikan dan standar hidup. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.
“Ketika bicara soal SDM pertanyaan paling kritikal, apakah dengan IPM 78,20 persen tadi sudah cukup menentukan bobot dan kapasitas SDM kita?,” tanyanya.
“Saya jawab, ini mungkin atau bahkan berbeda oleh akademik atau pejabat pemerintah, ini anomali, kepala daerah itu melihat SDM di daerahnya, menurut saya (IPM) itu tidak cukup,” ucapnya.
Menurutnya, skor IPM tidaklah cukup untuk melihat kualitas SDM-nya. Selain skor IPM, Andi Harun menekankan adanya sebuah keterampilan dan kemampuan SDM tersebut sebagai tolak ukurnya.
Ia mencontohkan seorang sarjana, dan menggambarkan bahwa tidaklah cukup bagi sarjana lulus hanya berbekal ijazah saja. Diperlukan keterampilan serta kemampuan untuk memasuki dunia pekerjaan.
“Sarjana harus memiliki keterampilan, sorry to say, kita di Indonesia ini tidak semua memiliki keterampilan tapi bersyukur bisa sarjana, padahal penting sekali keterampilan itu lebih dari gelarnya, hanya ada gelar tidak ada keterampilan? Omong kosong saja,” tegasnya.
Kemudian, ia meminta para partisipan untuk menyambut bonus demografi tahun 2030 dengan mempersiapkan diri menjadi generasi berkualitas dengan maksimalkan keterampilan serta kemampuan di bidangnya masing-masing.