DPRD Samarinda

Kebiasaan dan Budaya Buat Sistem Non-Tunai Sulit Diterapkan di Samarinda

SEPUTAR NUSANTARA, SAMARINDA – Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Fuad Fakhruddin membeberkan ada beberapa faktor yang menyebabkan sistem pembayaran non-tunai sulit untuk diterapkan di Samarinda.

Menurutnya salah satu faktor tersebut adalah kebiasaan dan budaya yang sudah kadung mengakar di kehidupan warga Samarinda, yang sebagian besar masih mengandalkan sistem pembayaran konvensional dengan menggunakan uang tunai untuk aktivitas transaksi ekonomi mereka.

“Mereka sudah terbiasa untuk bayar dengan uang tunai. Jadi ketika ada sistem non-tunai, masih perlu waktu untuk membiasakan diri,” jelas Fuad.

Fuad menyoroti kebijakan pemerintah yang memberlakukan sistem pembayaran non-tunai dalam transaksi pembayaran parkir di beberapa fasilitas umum. Menurutnya tantangan terbesar dalam mengimplementasikan sistem parkir nontunai adalah kebiasaan dan budaya masyarakat yang masih mengandalkan uang tunai dalam transaksi sehari-hari.

“Perubahan menuju digitalisasi memang memerlukan waktu dan sosialisasi yang lebih intensif. Tidak bisa dipaksakan secara tiba-tiba,” katanya.

Meski pembayaran parkir nontunai sudah mulai diterapkan awal bulan Juli lalu, namun masih banyak masyarakat yang belum mempersiapkan diri untuk itu.

Oleh karenanya edukasi yang masif juga dinilai sangat perlu mengenai manfaat dan kemudahan dari sistem nontunai.

“Kita perlu meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat agar mereka lebih memahami dan siap menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Back to top button