Samarinda

Disdikbud Samarinda Optimis, Kurikulum Merdeka Bisa Jadikan Samarinda KLA

SEPUTAR NUSANTARA, SAMARINDA – Kurikulum Merdeka merupakan inovasi dalam pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan minat belajar siswa. Di mana kurikulum ini memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Asli Nuryadin menerangkan terkait progres dari program yang telah berjalan di Kota Samarinda tersebut.

“Kurikulum Merdeka ini sudah berjalan dan harapan kita ke depan, ini menjadi kurikulum nasional. Kalau sudah menjadi kurikulum nasional, kita mau tidak mau harus straight di sana. Untuk di Samarinda, Kurikulum Merdeka sudah jalan semua, sudah di beri bimbingan teknis (bimtek) untuk kepala sekolah (kepsek) dan guru,” tuturnya.

“Tapi tetap ini kembali lagi ke personal, sehingga kolaborasi di dalam satuan pendidikan harus kompak baik guru, kepsek maupun unsur lainnya,” sambungnya.

Kemudian perihal kendala yang terjadi, ia menerangkan bahwa pihaknya tidak mendapatkan kendala yang berarti saat ini.

“Memang kita ada problem tapi tidak banyak, guru-guru kita yang sudah mau pensiun itu mungkin kinerjanya tidak terlalu optimal, tapi ini tidak banyak. Saya kira karena guru-guru muda banyak juga yang diangkat, baik melalui Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) tahun kemarin. Ada 700 lebih jumlahnya dan tahun ini ada sekitar 950, itu cukup banyak,” paparnya.

Untuk di Samarinda sendiri, Asli mengatakan terdapat Pendidikan anak usia dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), dan Pusat Layanan Disabilitas guna mengakomodir program tersebut.

“Kita itu ada PAUD, TK, SD, SMP, SKB, dan Pusat Layanan Disabilitas untuk anak berkebutuhan khusus, karena di sana ada terapisnya, psikolognya, dokternya, mereka nantinya menaungi untuk 178 sekolah negeri dan swasta yang sudah menyelenggarakan sekolah inklusi, tapi untuk anak yang berkebutuhan khusus ringan,” terangnya.

“Jadi anak-anak disabilitas kalau ringan bisa ke sekolah umum karena di sana ada guru yang di assisment walaupun kita secara spesifik tidak punya guru khusus tapi paling tidak guru umum ini dibekali asisment dari pusat layanan disabilitas untuk mengajar,” sambungnya.

Dengan rancangan yang terus disempurnakan tersebut, ia berharap ini akan membuat program tersebut berjalan dengan sangat baik kedepannya.

“Nanti bertahap program inklusinya di sekolah, karena kalau semua sekolah melakukan program inklusi, jadi kita bisa sekolah ramah anak dan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA),” tutupnya.

Back to top button