Ekonomi

Tangkal Isu Beras Oplosan Beredar di Pasaran, DPPKUKM Kaltim Sidak Enam Titik Distributor

Seputar Nusantara – Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, menggelar pengawasan terpadu terkait isu beras premium oplosan dan praktik penjualan beras di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di Samarinda.

Sebeluknya, Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI, melaporkan ditemukan ratusan merek beras yang beredar tidak sesuai standar dan bahkan terindikasi dioplos.

Asep Nuzuludin, Plt Kabid Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) DPPKUKM Kaltim, mengatakan isu beras oplosan tidak hanya menyangkut kejujuran pelaku usaha, tapi juga berpotensi mengguncang stabilitas harga dan memicu keresahan masyarakat.

“Informasi resmi dari pemerintah pusat ini bukan hal kecil, karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat. Maka dari itu, kami menyusun langkah-langkah monitoring hingga pelaksanaan sidak di berbagai pasar,” kata Asep Nuzuludin.

Menurutnya, pengawasan terpadu ini merupakan bentuk respons cepat atas laporan masyarakat serta hasil pemantauan lapangan yang menunjukkan adanya dugaan beras premium yang tidak sesuai mutu dan dijual melebihi HET yang telah ditetapkan pemerintah.

“Salah satu prioritas utama kami adalah mencegah keresahan berlebihan di masyarakat yang bisa berujung pada panic buying. Karenanya, pengawasan harus dilakukan secara sistematis dan menyeluruh,” jelasnya.

Sementara itu, Gunadi, Koordinator Pengawasan Tim 2 melaporkan pengawasan dilakukan di enam titik lokasi yang tersebar di Samarinda, meliputi dua pasar tradisional, dua ritel modern dan dua distributor besar yang menjadi rantai pasok utama beras premium di daerah ini.

“Kami fokus pada pemeriksaan kesesuaian antara produksi, pengemasan, dan klasifikasi mutu beras. Beberapa merek kami ambil sampelnya untuk diuji lebih lanjut,” ungkap Gunadi.

Dari hasil pengecekan awal, beberapa sampel beras premium telah diamankan untuk diuji laboratorium.

Pengujian akan mencakup aspek kadar patahan, warna, aroma, hingga kadar air. Hasilnya diperkirakan akan keluar dalam waktu tiga minggu.

Selain isu pengoplosan, Koordinator Tim 2 juga menemukan indikasi kontaminasi logam pada beras dari salah satu merek tertentu.

“Dugaan ini muncul setelah diketahui adanya hadiah promosi berupa sendok logam yang dicampurkan langsung ke dalam kemasan beras, tanpa pembatas atau pemisahan bahan,” paparnya.

“Praktik seperti ini sangat membahayakan. Benda logam yang bersentuhan langsung dengan beras dalam jangka waktu lama bisa melepaskan partikel mikro yang berisiko masuk ke makanan,” sambungnya.

Akibat temuan tersebut, pihaknya menyoroti lemahnya pengawasan pada aspek non-pangan yang menyatu dalam kemasan bahan makanan pokok, yang dapat menjadi celah bahaya bagi konsumen.

“Kami untuk terus melakukan pengawasan berkala dan bersinergi dengan instansi terkait dalam menjaga kestabilan harga serta kualitas barang kebutuhan pokok, khususnya beras di Kaltim,” tegasnya. (*)

Back to top button